Selasa Yang Berat

Sore kala itu, 

saat aku memandang langit, dunia, dan seisinya

semua terasa baik-baik saja,

ditemani dengan sang mentari yang seolah sedang bergembira

yang dengan hangat memancarkan sinarnya


Namun, 

semua itu berubah begitu cepat, saat aku mendapati kabar

bahwa kehadiranmu sudah usai sampai disini

kepergianmu yang dengan tiba-tiba itu

membuatku tersungkur lemas dan tak berdaya


Tidak sempat aku menyeka air mataku yang dengan hebatnya

terjatuh tiada henti dari setiap sudut mataku

bagaimana tidak,

seseorang yang sudah seperti kembaranku 

harus mengakhiri perjalanannya di dunia ini

dengan cepat dan tak terkirakan 


Saat itu, langit terasa mendung dan mentari meredup

seraya mengucapkan bela sungkawa atas kepergianmu

burung-burung yang juga berhenti berkicau

dan waktu yang seolah terhenti sejenak

seperti membawaku pada dunia yang lain

yaitu dunia mimpi sangat seperti mimpi


Dengan tubuhku yang tersungkur lemas dan tak berdaya

diiringi isak tangis yang kian tak berhenti dan semakin sesak

kuberanikan diriku untuk menyambanginya di rumah duka

tidak aku sangka, ini adlah pertemuan untuk terakhir kalinya 


Saat aku melihatnya dari kejauhan dengan terbujur kaku

membuat air mataku semakin dan semakin deras,

membuat hati dan perasaanku hancur berkeping,

membuat diriku tersungkur tak berdaya


Dengan hati yang hancur berkeping-keping

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya

Kuberanikan diri untuk membelai wajahnya

kuberanikan diri untuk memeluknya

dan kuberanikan diri untuk menemaninya

untuk terakhir kalinya dalam hidupku


Melewati malam yang terasa sangat cepat

berbaring disebelahnya, seolah menemaninya tertidur

dan menghabiskan waktu dengan pertanyaan

"Ini mimpi gak sih?" 

"ini nyata gak sih?'


Hingga mentari kembali memancarkan sinarnya

semakin terasa sesak dadaku 

melewati detik-detik terakhir bersamanya

waktu yang benar-benar berat kurasakan

Tiada henti aku menatap wajahnya

menatapnya untuk terakhir kali dalam hidupku


Seiring berjalannya prosesi pemakaman,

air mata yang jatuh dipipiku tak kunjung mereda,

seraya turut mengiringi kepergiannya

waktu di dunia dan seisinya seolah terhenti

setiap detiknya terasa bagai tersayat pisau 

detik demi detik kulalui dengan sekuat hati

membuat sekujur tubuhku bergejolak

bergejolak merasakan sakit, hancur, dan sedih


Hadirnya yang kian tak nampak disisiku lagi

membawakan ku pada sejuta rasa kerinduan

rindu yang tak bisa terbalaskan oleh apapun

rindu yang membawaku pada kehampaan


-bersambung


Titip do'a untuk Almarhum,


Ammar Musyaffa Zaki bin Kriswanto





Komentar